KearsipanOnline on Make A Gif
make animated gifs like this at MakeAGif
Keprihatinan Gubernur BI Harus Jadi Momentum Positif Bagi ANRI

Keprihatinan Gubernur BI Harus Jadi Momentum Positif Bagi ANRI

Gubernur BI, Agus Martowardoyo mengungkapkan keprihatinannya terhadap anggaran Arsip Nasional RI yang terus turun, apa langkah ANRI untuk menjawabnya?

Menyerahkan Arsip Bersejarah Bisa Dapat Imbalan Loh!

Menyerahkan Arsip Bersejarah Bisa Dapat Imbalan Loh!

ANRI sedang menyusun Perka tentang Tata Cara Pemberian Imbalan Penyerahan Arsip Statis

Saatnya Indonesia Terapkan Pemilu Online

Saatnya Indonesia Terapkan Pemilu Online

Pemilu Online (e-voting) bisa jadi solusi buruknya penyelenggaraan pemilu di Indonesia

Rudi Anton

"Pedoman Tata Naskah Dinas Kewenangan ANRI"

Setelah Perka ANRI tentang Pedoman Tata Naskah Dinas disakan, Bagaimana nasib dari Permenpan No 80 Tahun 2012?

Diklat Kearsipan

INFO PENTING: Jadwal Diklat Kearsipan 2014!

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kearsipan Arsip Nasional Republik Indonesia (Pusdiklat Kearsipan ANRI) pada tahun 2014 akan menyelenggarakan serangkaian diklat kearsipan, check it out..

Seminar AAI

AAI Sukses Selenggarakan Seminar Nasional

Asosiasi Arsiparis Indonesia (AAI) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional.

Monday, 11 August 2014

Presiden SBY Tak Ingin Kasus Hilangnya Arsip Supersemar Terulang

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pengarsipan dokumen-dokumen penting negara dilakukan dengan benar. SBY membentuk tim khusus untuk menyiapkan arsi-arsip penting selama pemerintahannya selama 10 tahun, dari 2009-2014.

"Tim sudah dibentuk melalui Menteri Sekretaris Negara untuk penyiapan arsip nasional selama 10 tahun terakhir," kata Presiden Yudhoyono saat membuka rapat terbatas di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, tadi malam.

SBY mengingatkan jangan sampai terjadi ada dokumen historis atau dokumen yang memiliki nilai sejarah tinggi tidak diketahui di mana yang orisinal atau aslinya seperti yang pernah terjadi terkait dengan dokumen Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Hingga kini tak diketahui di mana naskah asli dokumen yang membidani peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru tersebut.

"Marilah kita letakkan tradisi administrasi negara modern sehingga insyaAllah administrasi kita juga menjadi lengkap," kata SBY.

Menurut Presiden, penyiapan arsip nasional tersebut memiliki arti yang penting karena banyak dokumen negara yang rencananya akan diserahkan kepada pihak Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Sejumlah dokumen yang dipersiapkan antara lain terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Kerja Pemerintah (RKP), APBN dan APBN Perubahan.

Sumber: waspada.co.id

Friday, 8 August 2014

Presiden SBY Tekankan Pentingnya Tertib Arsip Bagi Lembaga Pemerintah

Menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden RI pada 20 Oktober mendatang, Susilo Bambang Yudhoyono telah menyiapkan arsip berisi catatan kepemimpinannya selama 10 tahun terakhir. Arsip itu disiapkan oleh tim khusus yang dibentuk berdasarkan keputusan Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi.

Nantinya, catatan tentang hasil kepemimpinan SBY itu itu akan diserahkan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan disimpan di lembaga kepresidenan. Dokumen tentang kepresidenan SBY itu seperti Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2004-2009 dan 2009-2014, maupun RKP, APBN dan APBNP yang sudah ada di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas atau Kementerian Keuangan.

“Itu saya harap bisa diserahkan kepada tim karena kita perlukan lima copy (salinan, red). Dengan demikian tidak harus kita produksi kembali,” kata SBY saat memberikan pengantar pada rapat  kabinet terbatas di Istana Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jumat (8/8) siang.

SBY menginginkan hal itu menjadi tradisi baru bagi presiden di Indonesia yang mengakhiri masa tugasnya. Dengan demikian, katanya, segala hal yang terkait administrasi pemerintahan terarsipkan.

“Dengan demikian dokumentasi kita insya Allah lengkap. Jangan sampai ada seperti dulu, di mana ada naskah Supersemar yang asli banyak sekali versinya, juga sejumlah dokumen yang barangkali kita tidak mendapatkan kopinya disimpan di mana,” imbuhnya.

Presiden yang didampingi Wakil Presiden Boediono juga meminta semua pejabat untuk memulai menjaga ketertiban semua dokumen negara, termasuk arsip-arsip nasional. “Ini penting untuk bahan kajian,  research dan menjadi  arsip penting bagi negara ini terus berjalan dari masa ke masa,” pungkasnya
 
Sumber: jpnn.com

Monday, 16 June 2014

Mendambakan Sosok Presiden Yang Peduli Dengan Nasib Kearsipan

Jakarta - Indonesia saat ini sedang diramaikan dengan hiruk pikuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang sedianya akan diselenggarakan pada 9 Juli 2014. Dua pasangan calon yang akan memperebutkan kursi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia Tahun 2014-2019 antara lain Prabowo Subianto, Ketua Partai Gerindra bersanding dengan Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN sedangkan lawannya adalah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta non aktif dan pasangannya Jusuf Kalla mantan wakil presiden Tahun 2004-2009.
Dari dua pasangan calon yang telah disebutkan diatas, telah memaparkan berbagai visi dan misinya dari bidang perekonomian hingga urusan keseahteraan rakyat, tetapi belum ada yang secara spesifik dari kedua calon yang menyinggung mengenai perbaikan di sektor kearsipan.
Wajar kiranya insan kearsipan di Indonesia berharap akan adanya perhatian yang lebih dari pemerintah untuk perbaikan sistem kearsipan nasional. Dimulai dari sumber daya manusia yang kurang pembinaan karena minimnya dana dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan hingga pengadaan anggaran bagi sektor kearsipan baik di pusat maupun daerah yang tergolong sangat kecil.
Kalau dikupas lebih dalam, urusan kearsipan ini sebenarnya sangat potensial, sisi fleksibilitas kearsipan yang dapat masuk ke semua urusan pemerintahan menjadi nilai tambah tersendiri bagi kearsipan.
Isu sentral mengenai arsip aset yang terbengkalai tidak diurus dengan benar sehingga menimbulkan potensi hilangnya aset-aset negara yang vital, arsip kontrak karya yang hingga kini belum dapat diakuisisi oleh Arsip Nasional selaku lembaga kearsipan nasional yang bertanggung jawab mengelola memori kolektif bangsa hingga minimnya kesadaran pengelolaan arsip perbatasan negara yang berpotensi hilangnya bukti vital jika terdapat negara yang mengklaim batas wilayah negara kita.
Dari apa yang telah disebutkan diatas, apakah para calon pemimpin bangsa tersebut masih bisa menyepelekan kearsipan? Kalau bicara tentang disintegrasi bangsa, kebocoran anggaran, rendahnya pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya, hendaknya mereka menengok melalui kearsipannya terlebih dahulu.

Sunday, 25 May 2014

Pocut Meurah Intan (1833-1937): Wanita Heldhafting (gagah berani) dari aceh yang terlupakan

Arsip masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekarang ini, bahkan ada yang menyebut arsip tak lebih dari "seonggok sampah" yang tak berarti. Tetapi saudara kita Dharwis Widya Utama Yacob, S.S membuktikan lain, dimana dia mengolah informasi yang terdapat dalam arsip statis yang terdapat dalam khasanah arsip statis di Arsip Nasional RI dan menyajikannya dalam suatu hal yang luar biasa bahkan menguak fakta menarik yang bahkan kita tidak tahu selama ini. berikut ini adalah buah karya menarik dari saudara Dharwis Widya Utama Yacob, S.S tentang pahlawan aceh yang bisa dibilang terlupakan padahal memiliki jasa yang tak kalah besar dari pahlawan-pahlawan lain yang selama ini kita kenal. 

Selama ini kita mengenal pahlawan wanita Aceh hanya Cut Nyak Dien dan Cut Meutia. Perjuangan mereka telah banyak diceritakan di buku sejarah dan juga di media massa. Kedua wanita tersebut juga telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional.  Padahal masih banyak wanita hebat Aceh lainnya yang gigih berjuang hingga meninggal dalam perlawanannya. Cut Nyak Dien dan Cut Meutia adalah hanya sebagian kecil dari pengobar semangat perlawanan terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Tentunya kita harus mengenal pahlawan wanita lainnya yang akan menjadi pahlawan nasional kita berikutnya. 

Pocut Meurah Intan namanya. Lahir di Biheue pada tahun 1833. Biheue adalah sebuah uleebalang (kenegerian) yang merupakan Wilayah Sagi XXII Mukim di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh merupakan Kerajaan di wilayah Aceh yang berdiri pada tahun 1496 sampai dengan 1903. Dengan raja yang terkenal adalah Sultan Iskandar Muda. Wilayah Sagi XXII Mukim merupakan tempat Panglima Polim juga berjuang melawan pemerintah kolonial Belanda. Pada perkembangannya,  Biheue masuk  Wilayah  XXII Mukim terdiri dari wilayah Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale, dan Laweueng dikarenakan terjadi krisis politik pada akhir abad ke-19. Krisis politik tersebut diakibatkan terjadinya perampasan daerah oleh Teuku Raja Pakeh Pidie atas dukungan Teungku di Boloh. Daerah tersebut merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar.

Pocut Meurah Intan adalah putri keturunan dari kalangan Kesultanan Aceh. Ayahnya merupakan seorang Kejruen (Kepala Negeri) Biheue. Pocut Meurah Intan memiliki suami bernama Tuanku Abdul Madjid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Syah Alam. Tuanku Abdul Madjid bekerja di bagian bea cukai di Pelabuhan Kuala Batee. Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Madjid, Pocut Meurah Intan memiliki 3 (tiga) orang putra bernama Tuanku Muhammad atau biasa dikenal Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman, Tuanku Nurdin. Kesemua anaknya berjuang dalam Perang Aceh. Perang Aceh adalah peperangan yang terjadi antara Kesultanan Aceh dengan Pemerintah Belanda yang dimulai pada tahun 1873 ditandai dengan datangnya Kapal Belanda di Pantai Kotaraja.  Pocut Meurah Intan juga merupakan ibu tiri dari permaisuri Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah (Sultan terakhir Kesultanan Aceh).Pocut Meurah merupakan  nama panggilan khusus  bagi wanita keturunan keluarga Kesultanan Aceh. Pocut Meurah Intan juga dipanggil juga dengan Pocut Biheue karena beliau berasal dari Biheue. Dalam perjuangannya selalu didampingi seorang panglima perang bernama Mahmud atau Waki Mud.  

Setelah meninggalnya Sultan Alauddin Mahmud Syah, dilantiklah Sultan Alaiuiddin Muhammad Daud Syah menjadi Sultan Kerajaan Aceh yang masih berusia 10 tahun. Hal ibukota kerajaan dipindahkan ke Kemala dan pada saat itu pula peperangan di wilayah Aceh semakin dahsyat dan sifat peperangan berubah menjadi perang gerilya di wilayah Aceh. Para pemimpin perang juga mulai hijrah ke Daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Salah satu daerah perang gerilya ialah Daerah Laweung dan Batee. Pocut Meurah Intan adalah pemimpin perang gerilya di Daerah Laweung. Hal ini dilandasi oleh menyerahnya sang suami kepada Belanda. Padahal sebelumnya mereka berkomitmen untuk melawan Belanda sampai akhir. Menyerahnya suaminya kepada Belanda juga memicu Pocut Meurah Intan untuk menceraikan suaminya tersebut. Setelah bercerai dengan suaminya, Pocut Meurah Intan bertekad untuk berjuang melawan Belanda. Pocut Meurah Intan juga mengajak ketiga putra untuk ikut berperang. Beliau memimpin pasukan keluar-masuk hutan. Begitu seringnya Pocut Meurah Intan bersama pasukannya menyerang pasukan Belanda sehingga beliau masuk dalam daftar buronan Belanda. Pasukan marsose Belanda berusaha mengadakan patroli dan pengejaran terhadap pasukan Pocut Meurah Intan. Berkat semangat berjuang bersama ketiga anaknya. Pocut Meurah Intan semakin kuat melawan Belanda. Namun, putra pertama yaitu Tuanku Muhammad atau Muhammad Batee tertangkap pada bulan Februari 1900. 

Tertangkapnya putra pertama membuat Pocut Meurah Intan semakin bersemangat.  Cintanya dengan tanah kelahiran yang diilhami oleh kepercayaaan pada agama dan pendidikan dari guru beliau dan ditambah pula pengaruh dari cerita Hikayat Perang Sabil, membuat Pocut Meurah Intan tidak kenal menyerah.  Dalam setiap pertempuran, beliau bersama dua putranya dan panglima perang yang setia selalu gigih dalam berjuang. Namun, walaupun Pocut Meurah Intan memiliki daya juang yang tinggi, pada tanggal 11 November 1902, Pocut Meurah Intan tertangkap di Gampong Sigli. 

Tertangkapnya Pocut Meurah Intan memberikan kesan tersendiri.  Hal ini diceritakan oleh H.C.Zentgraaff, seorang wartawan Belanda dan pemimpin redaksi koran De Java Bode yang meliput perang di Aceh. Zentgraaff menceritakan bahwa Pocut Meurah Intan dikejar oleh 18 orang marsose (marechaussee/serdadu) yang dipimpin oleh Veltman. Marsose adalah satuan militer yang  dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda sebagai pasukan taktis melawan gerilyawan Aceh termasuk menangkap Pocut Meurah Intan. Pocut Meurah Intan yang  dalam keadaan sendiri namun tidak menyerah begitu saja. Dengan rencongnya, beliau menusuk seluruh pasukan marsose tanpa takut. Dalam penyerangan tersebut, Pocut Meurah Intan terluka parah. Veltman pun justru berusaha menolongnya. Tapi Pocut Meurah Intan menolaknya. Dengan penyembuhan luka yang dilakukannya sendiri, membuat dirinya mengalami kecacatan di kakinya. Karena  semangat beraninya, Belanda menjulukinya ‘Heldhafting’ yang memiliki arti ‘yang gagah berani’.  


Setelah Pocut Meurah Intan tertangkap. Pocut Meurah Intan bersama putra keduanya, Tuanku Budiman, ditahan di Aceh. Sementara itu, putra bungsu Pocut Meurah Intan yaitu Tuanku Nurdin tetap meneruskan perjuangan ibunya di kawasan Laweueng dan Kalee.Namun pada tanggal 18 Februari 1905, Belanda mampu menangkap di Desa Lhok Kaju. Tuanku Nurdin ditahan bersama dengan ibunya dan kakaknya. Pada tanggal 6 Mei 1905, Pocut Meurah Intan bersama kedua putranya dan seorang keluarga Sultan Aceh bernama Tuanku Ibrahim dibuang ke Blora, Jawa Tengah tepatnya di desa Muman. Putra pertama Pocut Meurah Intan, Tuanku Muhammad, justru terpisah dan dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara. Di tempat pembuangannya itu, Pocut Meurah Intan yang belum banyak dikenal orang. Selama pembuangannya tersebut, masyarakat Blora lebih mengenal dengan nama “ Mbah Tjut”. Dalam pembuangannya, beliau tidak dapat lagi berjuang karena terkendala komunikasi dengan pengikut-pengikutnya. Sampai akhirnya Beliau wafat  di usia sekitar 105 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman umum Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora tepatnya pada tanggal 19 September 1937. 

Dharwis Widya Utama Yacob, S.S

Arsiparis Muda

Pengolahan Arsip Konvensional Sebelum Tahun 1945
--------------------------------------------
Binnenlands Bestuur Tahun 1919 No.1081.
De Haan No. H.88.
KIT Aceh No.112/46
Rooseno, A.B., Lukisan “Pocut Meurah Intan”, 1994.
Thajeb, Sharif, dkk., Pocut Meurah Intan: Srikandi Nasional dari Tanah Rencong, Jakarta: Yayasan Tentara Pelajar Aceh, 1987.
Zentgraaff, H.C., Aceh, Terjemahan Aboe Bakar, Jakarta: Penerbit Beuna,1983.
 

Data Kependudukan Dalam Khasanah Lembaga Balai Harta Peninggalan/Wees- En Boedelkamers (Wbk) Zaman Kolonial Belanda (1818-1942)

Indonesia merupakan negara dengan berpenduduk padat dengan jumlah pendudukterbesar di Asia Tenggara serta menduduki urutan ke-5 di dunia. Tentunya ini bukan prestasi yang baik bagi Indonesia karena justru ini menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Indonesia.Pemerintah Indonesia harus menekan laju pertumbuhan penduduk agar tidak meningkat berlipatganda. Tentunya Pemerintah Indonesia harus memiliki data yang akurat mengenai data pendudukIndonesia.

Untuk mengetahui banyaknya penduduk di Indonesia sekarang ini, sensus penduduk menjadi salah satu cara untuk mengukur banyaknya penduduk. Sensus penduduk juga bertujuan untuk mengetahui data-data yang menyertainya seperti nama orang tua, nama anak dan nama saudara. Tentunya hal itu juga berguna untuk kepentingan penelitian karena data-data tersebutmampu memberikan gambaran yang tepat apa yang dibutuhkan peneliti. Lalu bagaimanakah carapeneliti untuk mengetahui data-data mengenai nama orang tua, nama anak, nama saudara di zaman kolonial Belanda?  Tentunya kita harus mengetahui khasanah mana yang tepat untukmencari data-data tersebut. Salah satunya adalah khasanah Wees-en Boedelkamers atau disingkat dengan WBK.

Wees- en Boedelkamers  atau Lembaga Balai Harta Peninggalan adalah suatu lembagayang didirikan sejak zaman Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC didirikan padatahun 1602 disahkan oleh Pemerintah Belanda, serta diperbolehkan membentuk angkatan perang dan memerintah daerah yang ditaklukkannya. Di samping berdagang, VOC juga mempunyai kewenangan lain yaitu melakukan penguasaan terhadap daerah-daerah yang ditaklukkan.Kekuasaan VOC kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia. Dalam Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda timbullah kebutuhan bagi para pendudukterutama penduduk Belanda, khususnya dalam mengurus harta-harta yang ditinggalkan olehmereka bagi kepentingan para ahli waris yang berada di Belanda, anak-anak yatim piatu dansebagainya; untuk rnenanggulangi kebutuhan-kebutuhan itulah oleh Pemerintah Belanda dibentuk suatu Lembaga yang diberi nama Wees- en Boedelkamer (Balai Harta Peninggalan) pada tanggal 1 Oktober 1624, dan berkedudukan di Jakarta. Sebagai penuntun dalam menjalankan tugasnya sehari-hari diberikan dalam suatu Instruksi. Tugas pokok dan fungsi Wees- en Boedelkamer didasarkan atas 4 macam keputusan. Keputusan pertama adalah keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 16 Juli 1625 yang terdiri dari 49 pasal yang mengatur organisasi dan tugas-tugas Weeskamer (Balai Harta Peninggalan), kemudian keputusan kedua diperbaiki kembali pada tahun 1642. Keputusan ketiga adalah terjadi pada tahun 1818 dibuatlah keputusan baru yaitu Stbl. 1818 No. 72. Keputusan ini dibuat setelah pemulihan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia sesudah Pemerintahan Inggris walaupun secara isi tidak berbeda dengan yang terdahulu.  Keputusan keempat dan terakhir adalah  Stbl. 1872 No. 166 yang didasarkan pada berlakunya perundang-undangan baru di Hindia Belanda pada tahun 1848.


Staatblad Tahun 1897 No.231
tentang
Peraturan Keuangan Wees- en Boedelkamer (Balai Harta Peninggalan)

Selain peraturan-peraturan diatas terdapat peraturan keuangan yang mengatur Wees- en Boedelkamer. Peraturan keuangan bagaimana penggelolaan keuangan dalam institusi tersebut yang ditetapkan 19 September 1897 yaitu Staatblad tahun 1897 No. 231. Khasanah arsip Wees- en Boedelkamers terdiri dari  tiga edisi. Edisi pertama dengan judul Inventaris Wees- en Boedelkamers 1851-1937 diterbitkan pada tahun 2010. Edisi kedua adalah Inventaris Arsip Wees- en Boedelkamers, Series Boedel Orang Eropa tahun (1874) 1886-1942 (Tahap II) diterbitkan pada tahun 2011. Edisi ketiga adalah Inventaris Arsip Wees- en Boedelkamers, Series Boedel Orang Pribumi, Arab, dan Cina Tahun 1885-1944 (Tahap III) diterbitkan pada tahun 2012. Keseluruhan arsip yang ada berjumlah 845 ML. Adanya penggabungan series boedel arsip Orang Pribumi, Arab dan Cina di dalam satu buku, tidak ada kaitannya dengan status hukum mereka. Hal ini semata-mata hanya untuk memudahkan pengaturan di dalam inventaris.. Inventaris ini dapat langsung digunakan untuk menemukan arsip. Pengguna dapat menggunakan Daftar Isi untuk mencari series arsip yang dikehendaki, kemudian mencari nama yang dibutuhkan yang telah disusun secara index (memunculkan nama
keluarga/family name terlebih dahulu). Untuk nama Pribumi dan Arab, akan muncul nama keluarga atau nama terakhir, sedangkan untuk nama Cina tidak berubah, karena posisi nama keluarga ada di depan. Arsip dapat dipesan dengan menyebutkan Nomor Arsip (terletak di bagian kanan deskripsi arsip). Khasanah ini seluruhnya dalam Bahasa Belanda. Periode arsip meliputi Tahun 1885-1944, tetapi di dalamnya terdapat juga arsip-arsip dari periode di luar periode tersebut yang terdiri dari satu atau dua berkas arsip.

Untuk orang pribumi terdiri dari Boedel Papieren yang artinya Surat Harta Warisan dan Faillisment yang berarti surat tanda kepailitan. Untuk Orang Cina terdiri dari Boedel Papieren, Failisment, dan Register en Boek Houding yaitu rekening tabungan dari orang yang disebutkan. Terakhir, untuk Orang Eropa terdiri dari Boedel Papieren, Failisment, dan Diversen yang berisi surat yang isinya bervariasi.

Contoh dalam Inventaris Inventaris Arsip Wees- en Boedelkamers, Series Boedel Orang
Pribumi, Arab, dan Cina Tahun 1885-1944 (Tahap III)

NO                 DESKRIPSI             TAHUN                      NO ARSIP
1587               Wagimin                    1917 Juni 14                2828
1588               Wagio                       1894-04-27;                5061
                                                        1894-09-13
1589               Wagio (matroos)       1899 September 28      5501


Arsip Inventaris Arsip Wees- en Boedelkamers, Series Boedel
Orang Pribumi, Arab, dan Cina Tahun 1885-1944 (Tahap III) No. 2828
tentang
 riwayat hidup Wagimin termasuk kehidupan pibadinya seperti nama istri dan anak-anaknya

Selain mengenai tentang kehidupan pribadinya, dalam khasanah arsip Wees- en Boedelkamers terdapat juga harta yang dimiliki oleh orang tersebut. Hal tersebut bisa menandakan seberapa banyak harta yang dimiliki pada saat itu sehingga kita dapat menganalisa sejauh mana kesejahteraan masyarakat dimasa itu.


Arsip Inventaris Arsip Wees- en Boedelkamers, Series Boedel
Orang Pribumi, Arab, dan Cina Tahun 1885-1944 (Tahap III) No. 2828
berisi tentang harta Wagimin sejumlah 15, 3 gulden

Data kependudukan adalah salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa. Dengan adanya arsip yang memberikan gambaran seluas-luasnya mengenai data kependudukan akan membantu dalam validitas sebuah data kependudukan. Khasanah Wees- en Boedelkamers (WBK) merupakan salah satu sumber data yang penting jika ingin mengetahui bagaimana data penduduk di Zaman Kolonial Belanda. Khasanah ini mampu mengambarkan keterangan dari setiap penduduk di Hindia Belanda baik secara penghasilan maupun tingkat kesejahteraannya. Jadi, Khasanah Wees- en Boedelkamers (WBK) ini juga menjadi salah satu bentuk data kependudukan yang bisa menjadi acuan untuk pembangunan bangsa Indonesia di masa sekarang ini. (Dharwis)

Friday, 16 May 2014

INFO PENTING: 8 Perka ANRI Tentang Pedoman Retensi Arsip Substantif Disahkan

Kabar gembira bagi Instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah, setelah melalui proses yang panjang dan melalui pembahasan serta harmonisasi, pada tanggal 8 Mei 2014 Kepala Arsip Nasional RI, Mustari Irawan akhirnya mengesahkan 8 Perka ANRI tentang Pedoman Retensi Arsip Substantif. 8 Perka ANRI yang telah disahkan antara lain:
  1. Perka ANRI Nomor 6 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Perekonomian Urusan Kelautan dan Perikanan
  2. Perka ANRI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Perekonomian Urusan Penanaman Modal
  3. Perka ANRI Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Perekonomian Urusan Lingkungan Hidup
  4. Perka ANRI Nomor 9 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Perekonomian Urusan Perindustrian
  5. Perka ANRI Nomor 10 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Kesejahteraan Rakyat Urusan Penanggulangan Bencana
  6. Perka ANRI Nomor 11 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Perekonomian Urusan Koperasi dan UKM
  7. Perka ANRI Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Politik, Hukum dan Keamanan Urusan Pertahanan
  8. Perka ANRI Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pedoman Retensi Arsip Sektor Kesejahteraan Rakyat Urusan Pendidikan dan Kebudayaan.
Untuk mendapatkan Perka ANRI diatas anda dapat langsung mengunduhnya >>KLIK DISINI<<